5 Tips Mengajukan Kredit KPR Rumah

Salah satu kebutuhan primer adalah tempat tinggal. Tidak hanya perlu makan, minum, dan pakaian, manusia juga butuh tempat tinggal. Tapi, kita semua sadar, properti melibatkan uang yang besar. Bagaimana cara mengajukan kredit KPR ?

Kalau mengumpulkan uang sendiri sampai nilainya terpenuhi kemudian baru membeli, sepertinya sangat jarang dan sulit untuk mengejar kenaikan harga properti.

Untuk itu, biasanya pembeli menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya untuk me-leverage kemampuan beli properti tersebut.

Nah, jika Anda ingin membeli properti, misalnya, dari pasar sekunder atau rumah bekas, sebelum menggunakan pinjaman dari bank atau institusi keuangan lainnya, buatlah rencananya terlebih dahulu.

#1 Hitung Penghasilan per Bulan

Jika penghasilan Anda Rp 20 juta, tentu tidak semua gaji bisa dijadikan cicilan untuk membeli properti. Hanya 30% dari penghasilan itu yang bisa dijadikan angsuran. Artinya, Rp 6 juta sebagai cicilan.

Saat ini, jika Anda masuk ke situs jual beli properti tertentu, sudah ada simulasi online yang menghitung secara langsung berapa angsuran kredit pemilikan rumah (KPR) per bulan.

Dari situ bisa dihitung, berapa nilai pinjaman yang jadi target Anda.

#2 Cari Properti yang Ingin Dibeli

Bila sudah tahu kemampuan cicilan per bulan, Anda tinggal mencari properti yang bisa dibeli dengan kemampuan cicilan itu dan yang mau dibiayai oleh bank.

Pertimbangkan juga, semakin tinggi atau premium kelas properti, maka semakin besar pula biaya bulanannya. Misalnya, biaya pengelolaan lingkungan.

Bank tentu akan menilai berapa besar nilai properti yang bakal jadi agunan.

Saat ini, sesuai Peraturan Bank Indonesia (PBI), untuk uang muka (DP) rumah pertama turun jadi 15% dari sebelumnya 20%. Ini berarti, bank membiayai 85% dari nilai properti.

Angka 85% itulah yang disebut loan to value (LTV) atau penilaian pinjaman, dan nilai inilah yang jadi patokan total pinjaman Anda.

Kalau nilai appraisal properti yang ingin dibeli sebesar Rp 600 juta, maka besar KPR yang bisa Anda dapatkan hanya 85% atau Rp 510 juta.

Di aturan bank sentral, DP untuk rumah pertama, kedua, dan ketiga: 15%, 20%, 25%.

#3 Tenor Pinjaman

Berapa lama Anda mampu membayar cicilan tersebut?

Normalnya, orang mengambil jangka waktu 10 hingga 15 tahun. Namun saat ini, ada yang sampai 25 tahun.

Ini tentu berdampak pada perhitungan angsuran per bulan.

Kalau, misalnya, ada tawaran bunga fix selama tiga tahun dan cap selama dua tahun berikutnya, maka jika terjadi perubahan (baca: naik) suku bunga acuan BI, angsuran akan tetap selama periode itu mengikuti bunga yang sudah di sepakati.

Lebih dari lima tahun, mulai berlaku bunga mengambang (floating rata) mengikuti suku bunga pasar.

Contohnya, fix 6,99% selama tiga tahun dan cap 8,99% juga untuk tiga tahun. Masuk tahun keenam, bunga naik menjadi 12%, maka cicilan tentu akan naik juga.

Jika jangka waktu KPR sampai 15 tahun, ruang kenaikan selama masa sisa cicilan sembilan tahun alias hingga lunas di tahun ke-15 sudah harus Anda antisipasi. Jangan sampai saat tahun ke-6 dan seterusnya, Anda tidak mampu membayar cicilan.

#4 Persiapkan Uang Muka Rumah
Uang muka rumah pertama sebesar 15%. Dari contoh di atas, maka Anda harus menyiapkan Rp 90 juta untuk DP.

Sangat tidak disarankan mengambil kredit tanpa agunan (KTA) untuk membayar DP. Sebab, beban cicilan Anda bakal lebih dari 30% penghasilan.

#5 Biaya KPR

Kalau memakai fasilitas kredit dari bank atau institusi keuangan lainnya, maka ada biayanya.

Biaya KPR berkisar 8%–10% dari nilai pinjaman termasuk pajak, provisi, bea peralihan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), jasa notaris, asuransi.

Untuk itu, dana ini perlu Anda persiapkan, kira-kira Rp 41 juta–Rp 51 juta. Sehingga total dana yang mesti Anda siapkan adalah gabungan dari DP dan biaya KPR dalam contoh ini kurang lebih Rp 131 juta– Rp 141 juta.

#6 Histori BI Checking

Tapi, sebelum Anda mengambil KPR, periksa terlebih dahulu bahwa tidak ada tunggakan tagihan dari pinjaman atau kredit lain, misalnya, dari kartu kredit atau KTA atawa fasilitas lainnya.

Jika masih ada tagihan, sebaiknya Anda “bersihkan” dulu supaya saat perhitungan parameter kredit tidak ada masalah. Jika ada tunggakan, lunasi dan selesaikan terlebih dahulu.

Setelah itu, mintalah surat keterangan lunas kalau memang diperlukan dari bank penerbit kartu kredit atau pemberi fasilitas pinjaman lainnya.

Sebab, saat mengajukan KPR, bank pasti akan melakukan pemeriksaan riwayat pinjam meminjam Anda melalui BI checking, bagaimana historis kredit dan pembayaran sebelumnya.

Bila Anda pernah terlambat dalam membayar kewajiban atau tidak lancar dalam memenuhi kewajiban, akan terlihat jelas. Jika semua sudah clear, kapabilitas Anda sebagai orang yang bankable meyakinkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *