Update Bisnis Properti 2017 Dilihat dari Kinerja Saham Properti

Bagaimana melihat bisnis properti di 2017? Salah satunya dengan menganalisa kinerja saham properti di Bursa Efek Indonesia.

Berdasarkan data yang diolah harian Bisnis Indonesia, total laba bersih yang dikantongi oleh 33 emiten properti mencapai Rp7,65 triliun atau hanya tumbuh 0,84% secara year-on-year dari posisi Rp7,58 triliun pada kuartal III/2016.

Dari 33 emiten properti, laba bersih 19 perusahaan menyusut dan 14 perusahaan berhasil mencetak pertumbuhan laba positif. Bila ditelisik dari sisi laba dan rugi, diperoleh 5 emiten properti yang mencetak rugi sepanjang Januari–September 2017.

Jumlah emiten yang mencetak kerugian pada September 2017, lebih banyak dibandingkan dengan periode September 2016, di mana hanya 4 emiten properti yang merugi.

Penyebab kerugian tidak serta merta disebabkan oleh pendapatan yang turun, tetapi juga didorong oleh rugi selisih kurs.

Salah satunya, PT Cowell Development Tbk. (COWL). Hingga September 2017, COWL mencatatkan kerugian akibat selisih kurs sebesar Rp7,48 miliar. Padahal, periode yang sama tahun sebelumnya perseroan meraup untung selisih kurs sebesar Rp107,15 miliar.

Dampaknya, rugi bersih COWL membengkak 164,62% yoy menjadi Rp23,88 miliar. Padahal, pendapatan COWL tumbuh 9,86% yoy dari Rp370,62 miliar menjadi Rp407,16 miliar sepanjang Januari—September 2017.

Pendapatan Bisnis Properti Naik

Di sisi lain, total pendapatan yang dibukukan oleh 33 emiten properti mencapai Rp35,08 triliun, tumbuh 12,63% dari posisi Rp31,14 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, 15 dari 33 emiten properti mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang negatif.

Head of High Networth MNC Sekuritas Heldy Arifi en memproyeksi kinerja sembilan bulan lalu akan berlanjut hingga akhir tahun karena masih adanya risiko lemahnya permintaan dari masyarakat. Hampir semua emiten, menurutnya, berpeluang memangkas target pada tahun ini.

Kendati menunjukkan pemulihan tipis pada tahun ini, performa pada tahun depan diproyeksi tidak akan meningkat signifikan. Masuknya tahun politik berisiko mengerem lagi permintaan properti di Tanah Air.

Kinerja Lippo Group dengan produk Meikarta pun dinilai tidak akan mengangkat performa keseluruhan emiten. “Performa tahun depan pun tidak akan lebih baik dari tahun ini. Tahun depan kan tahun politik jadi mengantisipasi gejolak,” katanya saat dihubungi Bisnis, Senin (6/11). Di sisi lain, Heldy memproyeksi tren pertumbuhan ekonomi tahun depan masih berpeluang mencapai kisaran target pemerintah.

Peran Pemerintah

Namun, faktor pendorong terbesar memang akan berasal dari stimulus pemerintah. Seperti diketahui, dalam APBN 2018, asumsi pertumbuhan ekonomi dipatok di level 5,4%.

Terpisah, Direktur PT Ciputra Development Tbk. (CTRA) Artadinata Djangkar mengungkapkan untuk meningkatkan penjualan properti, perseroan harus berani bersaing dengan menurunkan margin.

Dia optimis, pertumbuhan properti pada tahun depan semakin membaik, seiring dengan stabilnya nilai tukar rupiah. Hingga September 2017, pendapatan CTRA mencapai Rp4,34 triliun, tergerus 1,58% dari posisi Rp4,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan pendapatan ini pun membuat laba bersih CTRA terkontraksi hingga 8% yoy menjadi Rp566,24 miliar hingga September 2017.

Sementara itu, CEO Lippo Group James Riady optimistis pertumbuhan emiten properti pada tahun depan akan lebih baik, seiring dengan membaiknya makro ekonomi. Alasannya, kebutuhan akan perumahan masih sangat tinggi hingga 11,4 juta perumahan di Indonesia.

“Sentimen properti saat ini cukup baik dan memiliki ruang tumbuh untuk dikembangkan, apalagi infrastruktur juga turut andil dalam pengembangan properti,” ungkapnya di Jakarta baru-baru ini.

James menilai, hal yang harus dilakukan saat ini adalah berinovasi. Salah satu inovasi yang dilakukan, sambungnya, membangun kota baru yakni Meikarta. Dia mengungkapkan, meluncurkan produk baru ke masyarakat akan memberikan pilihan baru dalam berinvestasi properti.

Ekspansi Perusahaan Properti

Meski kinerja emiten properti pada kuartal ketiga tahun ini cukup moncer, rupanya tak lantas membuat emiten properti gencar berekspansi di sisa tahun ini.

Sejumlah emiten properti hanya akan menambah lahan sesuai dengan kebutuhan di sekitar proyek yang sudah ada saja. Misalnya PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Perusahaan ini memiliki kebijakan hanya membeli lahan untuk mengganti lahan yang sudah terjual.

“Kami mengusahakan beli sejumlah sama dengan yang kami jual,” kata Harun Hajadi, Direktur CTRA kepada KONTAN, Senin (6/11). Harun mengatakan, proyek-proyek besar CTRA yang akan datang bakal membutuhkan investasi lahan yang besar. Wajar jika CTRA rajin mengakuisisi lahan. Meski begitu, emiten ini belum berniat menambah lahan di kota atau wilayah baru.

PT Intiland Development Tbk (DILD) juga hanya membeli lahan-lahan di sekitar proyeknya. “Kalau untuk konsolidasi lahan existing pasti kami terus lakukan,” kata Theresia Rustandi, Sekretaris Perusahaan DILD.

Saat ini, total landbank yang dimiliki Intiland mencapai sekitar 2.145 hektare (ha). Dari jumlah tersebut, 77,4% landbank berada di Jakarta dan sekitarnya mencapai 1.661 ha. Sisa 22,6% landbank berada di Surabaya dan sekitarnya, yakni 484 ha.

Meski demikian, ada juga perusahaan yang mengincar lahan cukup besar. Misalnya, PT PP Properti Tbk (PPRO), yang berencana mengakuisisi lahan di wilayah Kertajati seluas 200 ha. Usai akuisisi lahan yang ditargetkan selesai di akhir tahun ini, PPRO akan memiliki landbank sekitar 294 ha.

Dalam catatan harian KONTAN, per Juli perusahaan ini baru memiliki lahan sebesar 90 ha–100 ha. Di semester pertama, PPRO memang sudah menambah kepemilikan lahan baru. Namun jumlahnya tidak signifi – kan jika dibandingkan dengan akuisisi yang akan dilakukan di semester kedua ini.

Pada paruh pertama tahun ini, PPRO mengakuisisi 7 ha lahan senilai Rp 450 miliar. Supriyadi, Direktur OSO Sekuritas, mengatakan, penambahan landbank bisa saja dilakukan oleh emiten properti. “Kalau targetnya ekspatriat bisa-bisa saja menambah landbank,” kata Supriyadi.

Menurut dia, dengan adanya kemudahan iklim investasi dan berbisnis, maka investasi ekspatriat akan semakin besar di Indonesia. Dus, sudah selayaknya pengembang mengincar lokasi yang diburu oleh ekspatriat.

Kesimpulan

Kinerja perusahaan properti di menjelang akhir 2017 belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Semuanya masih berhati-hati, meskipun tidak sedikit yang ambil ancang-ancang di 2018.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *