Bagaimana dan Kinerja Saham Syariah di Indonesia

Kinerja Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) ketinggalan dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Per 7 Juni 2017, ISSI cuma tumbuh 5,84% (year-to-date/ ytd). Dalam periode yang sama, IHSG malah lebih bergigi dengan kenaikan 7,94%. Kenapa terjadi penurunan kinerja ? Apa penyebabnya ?

Kondisi ini sebetulnya tidak sulit untuk dipahami.

Sebab, keputusan S&P berdampak langsung terhadap sektor perbankan yang tidak termasuk saham syariah. Dengan begitu, arus masuk dana asing juga tidak memberikan dampak berarti terhadap ISSI.

Investor asing masih cenderung memilih berinvestasi pada sektor perbankan dan rokok. Meski begitu, kinerja saham syariah sepanjang tahun ini akan sebaik atau malah lebih baik dari pertumbuhan tahun lalu.

Secara historis kinerja ISSI memang lebih moncer ketimbang IHSG. Tahun lalu misalnya, ISSI berhasil tumbuh 18,62% (year-on-year/yoy). Sementara IHSG “cuma” naik 15,32%.

Cuma, tantangan bagi ISSI untuk mengalahkan IHSG ada di sektor perbankan. Tahun lalu, kinerjanya tertekan tingginya kredit bermasalah (non performing loan/NPL) dan tingginya rasio pencadangan. Nah, tahun ini kondisinya diprediksi mulai membaik.

Meski begitu, emiten sektor konsumsi, jasa konstruksi, properti, dan perdagangan yang mendominasi ISSI bisa mengkatrol indeks syariah ini. Sektor-sektor ini berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat.

Sektor yang tidak pernah minus itu consumer. Tahun 2008 sekalipun, consumer masih bisa membukukan pertumbuhan. Di sisi lain, awal bulan Ramadan tahun ini Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan “hadiah” bagi investor dan trader saham yang berpatokan pada ISSI.

OJK merilis Daftar Efek Syariah (DES) terbaru untuk periode 1 Juni 2017 hingga 30 November 2017. Bobot DES bertambah menjadi 351 efek, tertinggi sepanjang sejarah pasar modal syariah di Indonesia.

Selain soal prinsip syariah, proses seleksi saham untuk masuk DES sudah mempertimbangkan satu faktor fundamental, yakni solvabilitas. Kemampuan emiten yang sahamnya tergolong syariah untuk memenuhi semua kewajibannya bisa dibilang lebih baik ketimbang kebanyakan emiten lain. Sebab, utang berbasis bunga tidak boleh lebih dari 45% dari total aset perseroan.

Yang perlu diingat, DES bukan daftar makanan siap saji yang bisa langsung disantap. DES hanya sebagai patokan saham apa saja yang bisa dilirik.

Setelah itu pertimbangan utama tetap pada faktor fundamental. Tahun lalu, saham INAF (PT Indofarma Tbk) yang termasuk syariah naik ratusan persen. Tapi perusahaan pelat merah itu malah merugi Rp 17,36 miliar.

Selain itu, DES juga mengecualikan faktor likuiditas yang sebetulnya penting bagi trader. Meski memenuhi kriteria syariah, ia mempertanyakan masuknya SOBI yang nyaris tanpa transaksi harian ke DES. Saham yang dikempit publik cuma 2,04%, setara sekitar 18,87 juta unit.

Terus Tumbuh

Terlepas dari itu, langkah Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) menambah jumlah efek yang masuk ke DES rupanya sejalan dengan perkembangan pasar modal syariah.

Betul, angkanya memang masih mini. Investor syariah baru sekitar 2,7% dari total investor di BEI. Meski begitu, jika melihat data di beberapa sekuritas yang menyediakan platform online trading syariah, geliatnya makin membaik.

Di Sucor Sekuritas, dalam dua tahun terakhir jumlah nasabah online trading syariah melesat 154%. Sampai dengan bulan Mei 2017, jumlahnya mencapai 267 nasabah. Sementara dari sisi rata-rata nilai transaksi harian sepanjang tahun lalu sebesar Rp 453,5 juta.

Walaupun transaksi syariah cuma 0,9% dari transaksi konvensional, minat dan potensinya masih sangat besar. Hal ini bisa dilihat dari jumlah frekuensi transaksi yang cukup besar, yakni 3.531 kali transaksi di tahun 2016.

Sampai dengan bulan Mei 2017, nilai rata-rata transaksi syariah menyumbang 55% dibanding nilai rata-rata transaksi konvensional. Kondisi serupa juga terjadi di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia. Jumlah nasabah syariah mereka “hanya” 1,01% dari total nasabah. Rata-rata nilai transaksi hariannya juga “cuma” 0,1- 0,2% dari rata-rata total transaksi harian di Mirae.

Kabarnya baiknya, jumlah rekening dan nilai transaksi harian di Mirae terus menunjukkan data pertumbuhan yang signifikan dan berlanjut hingga saat ini. Tahun lalu jumlah rekening efek syariah di sekuritas ini tumbuh 53% dibanding tahun sebelumnya.

Sampai dengan bulan Mei 2017 ini, jumlah rekening efek syariah bertambah 25% dibandingkan akhir tahun 2016. Dari sisi nilai transaksi harian, tahun lalu rata-rata melonjak 58% (yoy).

Kesimpulan

Cuma, dari posisi akhir tahun 2016 hingga Mei 2017, nilai transaksinya malah turun 21%. Meski begitu, optimisme nilai transaksi harian rekening syariah sepanjang tahun ini bakal bertumbuh seiring dengan peningkatan jumlah rekening efek syariah. Saham halal moncer juga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *