5 Alasan Kenapa Anda Harus Investasi Reksadana

Jika dibandingkan dengan produk perbankan, reksadana masih kalah populer di negeri ini. Ini suatu fakta yang kurang baik karena sebenarnya Reksadana membawa banyak keuntungan bagi masyarakat.

Lihat saja, jumlah investor reksadana di Indonesia. Kendati sudah ditawarkan sejak tahun 1990-an, jumlah investor reksadana di Indonesia per awal semester kedua, hanya berkisar 500.000-an.

Jika dibandingkan dengan total populasi, itu berarti cuma 0,25% penduduk di sini yang pernah atau sedang membiakkan kekayaannya melalui reksadana. Masih terbatasnya jumlah investor reksadana, sejatinya amat disayangkan.

Jika dilihat dari sudut otoritas moneter dan industri, keterbatasan pasar reksadana berarti ruang gerak industri keuangan kita ya, segitu-segitu saja. Kalau produk reksadana yang beredar semakin banyak , tentu penyerapan atas efek pasar modal, semacam saham dan obligasi semakin tinggi.

Istilah yang lazim digunakan regulator, industri keuangan kita akan semakin dalam. Yang lebih penting bagi kita, dan akan dibahas di tulisan ini adalah jumlah investor reksadana yang minim berarti masih belum banyak penduduk kita yang menikmati berbagai keunggulan yang ditawarkan oleh reksadana sebagai instrumen investasi.

Memang, apa saja manfaat yang ditawarkan oleh reksadana?

#1 Tujuan Investasi

Sebagai instrumen investasi yang mempunyai banyak variasi, reksadana bisa dimanfaatkan oleh investor perorangan untuk mencapai beragam tujuan investasi.

Dalam ilmu perencanaan keuangan, pengambilan keputusan investasi biasanya dimulai dengan menetapkan tujuan investasi. Tahap berikut adalah mengidentifikasi profil risiko si investor. Baru setelah itu, memilih produk.

Dengan berbagai ragamnya, reksadana tidak hanya bisa memenuhi seluruh kebutuhan investasi, tetapi juga menyesuaikan profil risiko investor.

#2 Variasi Instrumen

Di Indonesia sendiri, kini ada empat reksadana yang tersedia untuk investor ritel. Masingmasing adalah reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana saham dan reksadana campuran.
Selain empat jenis reksadana itu, ada pula reksadana yang ditawarkan sesuai dengan prinsip hukum Syariah.

Varian terbaru reksadana, yang baru saja dirumuskan aturannya oleh Otoritas Jasa Keuangan adalah reksadana target waktu dan Dana Investasi Infrastruktur Berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (DINFRA).

Selain itu, investor juga harus memperhatikan jangka waktu investasi, demi memenuhi tujuan yang ditetapkan. Ambil contoh reksadana pasar uang, cocok bagi mereka yang ingin memenuhi tujuan jangka pendek.

Yang dimaksud tujuan investasi berjangka pendek adalah agenda apa pun yang harus dipenuhi dalam waktu paling lama setahun. Rencana berlibur di akhir tahun, bisa dijadikan contoh tujuan jangka pendek.

Mengingat tujuan ini harus dipenuhi dalam waktu yang dekat, maka instrumen yang paling sesuai tentunya reksadana yang memiliki tingkat likuiditas paling tinggi. Reksadana pasar uang yang keranjang portofolionya berisikan deposito serta berbagai efek pasar uang yang akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari setahun, jelas paling sesuai.

Menimbang jenis aset yang dimilikinya, reksadana pasar uang juga kerap direkomendasikan bagi investor yang tidak menyukai risiko. Sesuai dengan imbal hasilnya yang tak terlalu menjulang, produk perbankan dan efek pasar uang, yang menjadi aset dasar reksadana pasar uang, juga punya risiko minim.

#3 Risiko Terkelola

Manfaat lain yang bisa dipetik investor ritel dari reksadana adalah mengelola tingkat risiko investasi. Tidak lupa kan dengan hukum besi investasi? Kalau mau risiko lebih rendah, ya sebar saja dana kita ke berbagai jenis aset.

Reksadana merupakan produk portofolio atau diversifikasi dari berbagai macam produk investasi. Keempat reksadana konvensional, secara aturan, boleh berisi lebih dari satu jenis aset. Misal, reksadana pasar uang bisa berisi produk bank dan efek surat utang.

Jenis aset pengisi keranjang yang sama juga berlaku untuk reksadana pendapatan tetap. Sementara reksadana campuran, maupun reksadana saham dapat memiliki saham ataupun obligasi.

Dengan portofolio yang beragam, reksadana sangat pas bagi investor, baik yang awam dengan jagad keuangan, maupun mereka yang akrab, namun tak punya cukup waktu untuk memantau pasar finansial.

Dibandingkan reksadana dengan saham, makaKalau saham, pergerakan hagranya volatile. Berbeda dengan reksadana yang stabi.

Dengan alasan itu pula, reksadana dipilih sebagai mesin pemutar uang.

#4 Pertumbuhan Investasi

Manfaat lain yang bisa dinikmati oleh investor reksadana adalah pertumbuhan investasi yang lebih cepat. Contohnya antara deposito, yang merupakan produk bank, dengan reksadana pasar uang.

Mengacu ke data Bareksa, selama setahun terakhir per tanggal 26 September lalu, rata-rata imbal hasil yang dicetak reksadana pasar uang memang tergolong mini, hanya 4,33%. Jika dibandingkan dengan sejumlah bank, yang bisa berkisar 5%, angka rata-rata itu tentu tak memuaskan.

Namun jika kita menelisik lebih dalam, ada banyak reksadana pasar uang yang mengungguli bunga deposito di bank. Sebut saja, Syailendra Dana Kas yang mencetak imbal hasil sebesar 7,29% per akhir Juni lalu. Atau, Sucorinvest Money Market Fund yang mencetak rata-rata imbal hasil 7,86%,.

Kedua produk ini masuk ke dalam daftar lima besar pemeringkatan Bareksa dan KONTAN untuk reksadana pasar uang dengan jangka waktu satu tahun (lihat halaman 13).

Hanya, langkah Bank Indonesia (BI) memangkas bunga acuan memunculkan tantangan bagi pengelola reksadana pasar uang ke depan. Jumat (22/9) pekan lalu, bank sentral kembali menggunting BI 7-day repo rate menjadi 4,25%. Ini merupakan kali kedua, BI mengerek turun bunga acuan.

#5 Minimum Investasi Kecil

Yang lebih asyik lagi, reksadana pasar uang tidak mengharuskan penempatan dana dalam jumlah besar. Banyak reksadana pasar uang yang bisa dibeli dengan harga lebih murah ketimbang syarat minimal Anda buka deposito di bank.

Ambil contoh, banyak reksadana pasar yang memperbolehkan investornya untuk menempatkan di kisaran Rp 1 juta. Bahkan, ada yang ratusan ribu rupiah saja.

Sedangkan untuk menempatkan dana di deposito, kebanyakan bank kini mengharuskan nasabahnya menyetor minimal Rp 10 juta.

Manfaat lain yang juga bisa dipetik dari penempatan dana di reksadana adalah perlakuan pajak yang lebih lunak. Ini terlihat jika kita menempatkan dana di reksadana yang memiliki obligasi sebagai salah satu pengisi keranjang. Pendapatan bunga dari efek utang yang dinikmati oleh reksadana tidak lagi dipotong pajak.

Kesimpulan

Jika memiliki segudang manfaat, lantas mengapa reksadana tidak terlalu populer? Bisa jadi karena investor ritel di negeri ini tak yakin reksadana mampu memenuhi seluruh keinginannya.

Banyak investor ritel yang menginginkan return yang tinggi, likuiditas dan jaminan keamanan dalam berinvestasi. Keinginan itu memang agak berlebihan.

Lazimnya produk investasi, reksadana tentu tak memberi jaminan apa pun, berbeda dengan produk bank. Itu sebabnya, sebelum melakukan investasi, calon investor diminta menjalani tes profil risiko terlebih dulu.

Dari tes semacam itu, rekomendasi reksadana yang cocok untuk tiap-tiap calon investor akan keluar. Misalkan, Untuk calon investor yang punya tujuan jangka pendek, tidak begitu suka dengan resiko, dan butuh kepastian likuiditas, disarankan memilih reksadana pasar uang.

Ayo, segera tentukan tujuan investasi dan profil risiko Anda, dan jangan ragu menikmati manfaat reksadana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *